Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia
Indonesian Furniture and Craft Industry Association
01 February 2017

HIMKI Bidik Ekspor Mebel US$ 2,2 Miliar

Jakarta – Industri mebel menargetkan, ekspor tahun 2017 lebih baik dari tahun lalu. Di atas kertas, Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) mematok ekspor tahun ini ,US$ 2,2 miliar, naik 4,7% dari target tahun 2016 senilai US$ 2,1 miliar.

Meski harus bersaing ketat dengan kompetitor negara lain, industri mebel di Indonesia masih berusaha meningkatkan ekspor. “Targetnya naik, tapi masih jauh dari harapan kami semula dengan target kenaikan per tahun 15%,” kata Abdul Sobur, Wakil Ketua Umum Bidang Organisasi & Hubungan Antar Lembaga HIMKI, kepada KONTAN, Kamis (29/12/2016).

Sampai November 2016, HIMKI mencatat ekspor senilai US$ 1,7 miliar. Abdul Sobur yakin, target ekspor akan mencapai US$ 2,1 miliar, karena masih ada transaksi penjualan di Desember 2016. "Biasanya penjualan akhir tahun itu signifikan," kata Abdul Sobur.

Dalam roadmap yang disusun HIMKI, tahun 2019 ekspor mebel diproyeksikan sekitar US$ 5 miliar. Untuk mencapai target, ekspor per tahun harus naik 15% per tahun. Namun, melihat berbagai kendala, HIMKI menilai target tersebut jauh dari harapan.

Ada dua kendala yang menjadi keluhan Sobur. Pertama, persaingan dengan produsen mebel dari China, Vietnam dan Malaysia.

Menurut HIMKI, realisasi ekspor Malaysia tahun lalu mencapai US$ 2,5 miliar per tahun dan Vietnam bisa US$ 7,2 miliar per tahun. Kedua, regulasi dan infrastruktur di negara tersebut jauh lebih siap sehingga bisa membuat daya saing lebih kompetitif. "Alhasil, pelaku industri ada yang menutup operasinya dan pindah ke Vietnam," terang Sobur.

Menurut Sobur, ada beberapa anggota HIMKI menutup pabrik dan pindah ke Vietnam, seperti; Wood World Indonesia (WWI) asal Taiwan dan Mithland Smith. "Mereka pindah, lantaran Vietnam lebih menjanjikan," katanya.

Abdul Sobur menambahkan, HIMKI telah mengusulkan kepada pemerintah untuk memperbaiki regulasi, seperti keringanan pajak ekspor, suku bunga bank, dll.

Menjawab keluhan pengusaha, Edy Sutopo Direktur Industri Hasil Hutan dan Perkebunan Ditjen Industri Agro Kementerian Perindustrian bilang, pihaknya berupaya memberikan insentif agar industri mebel bisa berkibar. "Kami masih berupaya," kata Edy, kepada KONTAN. Indonesia masih memiliki daya tarik untuk investasi mebel.

Yang terbaru, Tat Wai Enterprise Ltd, perusahaan mebel Singapura baru beroperasi di Kendal. Selain itu, ada 5 -10 investor asing lain yang ingin masuk tahun ini. "Januari ini ada perusahaan migas China yang ingin investasi furniture," tutur Edy. kontan