HIMKI diundang menjadi pembicara di Konvensi AHEC ke-23 Asia Tenggara dan Cina Raya pada 21-22 Juni 2018 di Westin Xian Hotel, Xian China. HIMKI diwakili oleh Albertus Kuswidiarso, Wakil Ketua Umum HIMKI Bidang Bahan Baku dan Herlina Lee, Wakil Ketua Umum HIMKI Bidang Regulasi & Advokasi Hukum.

HIMKI diminta pendapatnya oleh para ahli dari AHEC (American Hardwood Export Council) mengenai industri atau pasar mebel Indonesia. Acara ini merupakan ajang komunikasi antara AHEC dan kalangan industri mebel dan kerajinan dan perlunya bertemu dengan eksportir kayu keras dari Amerika Serikat. Pada kesempatan tersebut, AHEC memperkenalkan teknologi terbaru dengan thermal.

Konvensi ini didukung sepenuhnya oleh Asosiasi Mebel Shaanxi dan Asosiasi Mebel Xian Cina dan menampilkan 6 pembicara utama dari Amerika Serikat, Inggeris, dan Hong Kong. Acara ini dihadiri oleh lebih dari 350 perwakilan industri mebel dan kerajinan yang berasal dari Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, Vietnam, Amerika Serikat, Taiwan dan China dan lebih 30 ahli ekspor kayu keras AHEC.

Kuswidiarso dan Herlina menegaskan bahwa peluang pasar furniture Indonesia masih terbuka lebar karena banyak proyek hotel dan apartemen baru. Sementara penggunaan hardwood Amerika untuk pasar lokal masih kecil. Kondisi ini disebabkan oleh kurangnya pengetahuan tentang spesies dan karakteristik kayu Amerika di universitas, arsitek dan desainer di Indonesia.

Di konvensi tersebut, menurut Albertus Kuswidiarso, saat ini Cina sudah mulai gelisah. Begitu pun dengan eksportir AHEC yang diakibatkan oleh kondisi trade war kedua negara tersebut. Untuk itu, Cina sangat antusias dengan one belt one road tersebut. Sekarang banyak bantuan Cina kepada Afrika yang melahirkan skema ekonomi negara tersebut yang mendukung eksistensi Cina. Asosiasi furniture Cina ingin mengadakan kerjasama dengan HIMKI, yaitu untuk supply material dan membeli material di Indonesia.

Sekarang Vietnam mengalami kesulitan untuk mendapatkan legalitas dalam memasuki pasar Eropa. Kemudian mereka bertanya bagaimana dengan Indonesia, apakah mengalami hal serupa? Secara terus terang Indonesia juga mengalami hal serupa. Thailand dan Malaysia saat ini hanya fokus di kayu karet, di luar itu spesies lain tidak mereka miliki.

Dalam sesi tanya jawab, perwakilan Malaysia bertanya bagaimana cara HIMKI bisa mengkoordinir assosiasi sehingga bisa menjadi besar seperti sekarang? Bagaimana cara menggabungkan kedua assosiasi mebel dan kerajinan yang ada di Indonesia karena keduanya memiliki kendala masing-masing untuk bergabung. Perwakilan HIMKI pun menjelaskan kronologis penggabungan kedua asosiasi tersebut.maulana s jaelani