Untuk pertama kalinya INBAR (International Bamboo and Rattan) menyelenggarakan acara The Global Bamboo and Rattan Congress 2018 (BARC2018) dengan tema “Enhancing South-South Cooperation for Green Development through Bamboo and Rattan’s Contributions to the UN SDGs” pada tahun ini. Acara ini diadakan pada tanggal 25-27 Juni 2018 di China National Convention Center di Beijing Cina dan dihadiri oleh sekitar 1.200 peserta yang terdiri dari Kepala Negara, Menteri, Stakeholder, Pengusaha, Peneliti dan Seniman dari berbagai negara.

Agenda utama pada kongres ini berupa high-level dialogues mengenai berbagai aspek seputar bambu dan rotan. Selain itu juga diadakan 10 sesi diskusi paralel, 30 thematic events dan kunjungan ke wilayah produksi bambu di Cina.

Sebagai negara penghasil bahan baku rotan terbesar di dunia, Indonesia melalui HIMKI sebagai asosiasi yang mewadahi pelaku industri mebel dan kerajinan rotan mendapatkan kehormatan untuk menjadi penyelenggara seminar seputar rotan dan bambu tingkat dunia. Adapun tema yang dipilih untuk diangkat adalah “Inclusive and Green Development of Rattan Utilization”.

Acara dibuka oleh Dra. Tuti Prahastuti M.Si., Direktur Ekspor Produk Perkebunan dan Kehutanan, Kementerian Perdagangan RI, yang menyampaikan materi berjudul Strategy to Boost Indonesia Rattan Export Performance. Setelah itu dilanjutkan oleh Satori, Wakil Ketua Umum Bidang Produksi dan SDM HIMKI yang menyampaikan materi berjudul Rattan Indonesia for Global Market, yang mendapat sambutan hangat dari audience.

Pemaparan selanjutnya dari PUPUK (Perkumpulan Untuk Peningkatan Usaha Kecil), yaitu Cecep Kodir Jaelani, Direktur Eksekutif yang menyampaikan materi Rattan for Life dan Early Eka Kurnia Rahmawati, Sekretaris Jenderal, dengan materi Challenges and Strategy to Develop Green Rattan Management. Acara ini dipandu oleh Ramadhani Achdiawan, Research Manager AgImpact International Australia yang bertindak selaku moderator.

Selain pembicara yang terlibat dalam diskusi panel yang diselenggarakan oleh HIMKI, panelis dari Indonesia yang terlibat dalam BARC 2018 antara lain Desy Ekawati, Koordinator Tim Proyek, Badan Penelitian dan Pengembangan Inovesi LHK; Jaya Wahono, CEO Clean Power Indonesia; Dr Karnita Yuniarti, S.Hut, M.Wood. Sc, KLHK; dan Muhammad Firman, Direktur Konservasi Tanah dan Air, Direktorat Jenderal PDASHL, KLHK.

INBAR (International Bamboo and Rattan) didirikan pada tahun 1997 sebagai organisasi pembangunan multilateral untuk mempromosikan Kerjasama Selatan-Selatan dalam pemanfaatan bambu dan rotan untuk pertumbuhan hijau dan pembangunan berkelanjutan secara ekologis. Organisasi ini berkembang dari Bamboo Rattan Research Network di Asia, dimulai pada tahun 1984 sebagai sebuah proyek yang dijalankan oleh International Development Reasearch (IDRC) Kanada.

Pada awalnya INBAR berfokus pada dukungan teknis dan riset untuk berbagai negara, namun seiring barjalannya waktu organisasi ini juga berada di depan dalam pengembangan dan advokasi kebijakan berkaitan dengan penanaman dan pemanfaatan bambu dan rotan yang berfokus pada 4 area yakni: mudah didapat; layanan energi terkini yang berkelanjutan dan dapat diandalkan; mengkordinaksikan masukan dari dan antar negara anggota dan menjadi representasi dalam arena kebijakan global; berbagi pengetahuan, traiing, dan pembangunan kesadaran yang berkaitan dengan bambu dan rotan sebagai sumber daya dan komiditas strategis; dan riset aksi dan dukungan terhadap negara-negara untuk mempromosikan inovasi di tingkat bawah atau akar rumput. maulana s jaelani