Ada yang menarik dari beberapa pertanyaan yang diajukan awak media di sela-sela seminar "Peluang Baru Bisnis Perhutanan  Sosial" yang diselenggarakan oleh Direktorat Bina Usaha Perhutanan Sosial dan Hutan Adat Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada Jumat, 7 September 2018 di Jakarta Convention Center, Jakarta.

 

Menurut Abdul Sobur, Sekretaris Jenderal HIMKI, pertanyaan itu adalah tentang apa makna nilai  tukar rupiah yang terus terpuruk  dan pertumbuhan industri yang susah payah, yang melambat.

 

Kementerian LHK berharap agar seminar tersebut berdampak pada meningkatnya  ekonomi masyarakat di sekitar hutan yang luasnya 133 juta hektar dan baru terbagikan 1.8% saja ke publik/rakyat. 

 

Para awak media semuanya bertanya tentang rupiah yang terus terpuruk hingga ke level terdalam dan menembus 15.00 dan dolar AS yang makin perkasa. “Jika semua itu terus bergerak bisa membuat negara dalam keadaan kritis. Mereka berpendapat bahwa saat ini yang beruntung adalah mereka yang bisa dapat dolar AS seperti para eksportir mebel dan kerajinan yang TKDN-nya lebih dari 80%, yaitu bahan kayu dan rotan yang  dominan. Dan mereka semuanya tergabung di organisasi HIMKI.”

 

"Mereka pikir itu keren, padahal opini itu harus diubah menjadi lebih analisis agar bisa lebih dimengerti bahwa kita, bangsa Indonesia sedang terancam," kata Sobur.

 

Perhatikan  baiik-baik, katanya, bagi kita  para eksportir dari winfall atau untung karena jatuhnya rupiah itu bukan kemenangan, meskipun ada uang lebih. Lebih tepatnya itu adalah  kekalahan bangsa kita, lemahnya daya tahan ekonomi kita.

 

Sobur mengingatkan sekali lagi, bahwa di balik itu semua, terutama para penyelenggara negara, pimpinan lembaga yang membantu presiden dll semua harap memahami bahwa kondisi perusahaan pada umumnya  saat ini kesulitan untuk menggenjot volume omzet penjualan ekspor.

 

Mereka bersusah payah untuk bisa tumbuh lantaran daya saing kita amat lemah. Di berbagai sektor industri masih ada sejumlah regulasi yang menghambat seperti beban SVLK di industri perkayuan dan mebel, bunga bank tinggi dll dibanding dengan tahun lalu yang tidak jauh beda, bahkan sepertinya lebih susah saat ini.

 

Kemenangan sejati bagi para eksportir bagi bangsa itu bila omzet kita naik dari tahun ke tahun, volume dan nilai ekspor naik sesuai target bila perlu 2 digit. Untuk itu mari kita genjot marketing, tapi Kementrian Perdagangan tidak ada dana untuk mendukung pemasaran.

 

"Kita dukung marketing dengan produksi unggul, dengan hasil produksi tanpa cacat, tanpa return, tapi pembinaan dan subsidi pada industri ini minim dan dengan ontime pengiriman infrastruktur yang belum beres. Kita juga dukung marketing ekspor dalam sisa 4 bulan kedepan dengan pameran Trade Expo Indonesia (TEI) yang apa adanya. Kita juga dukung pertumbuhan ekspor dengan  inovasi  yg miskin riset," katanya.

 

Menurut Sobur, selisih dari kejatuhan  rupiah itu kita akan anggap sebagai bonus di akhir tahun bila usaha bperjalan dan situasi ekonomi bisa dijaga, dan berharap sampai selesai periode Pilpres situasinya  bisa di-manage, dapat dikendalikan dengan baik.* maulana s jaelani.