Herlina Lee, Wakil Ketua Umum HIMKI menjadi salah satu panelis di Konferensi Panel Kayu Dunia Ke-5 di Linyi, China pada 2 September 2018. Herlina Lee menjelaskan kondisi forestry and wood industry di Indonesia dengan audiensit: China National Forestry Products Association, Linyi Wood Industrial Association, Wood Products Industry Manufacturers, Wood-Based Panel Manufacturers dan Wood Material Suppliers.

Menurut Herlina, status pengelolaan hutan dibagi enam. Pertama, Hutan Produksi Konversi adalah kawasan hutan yang secara spesial disediakan untuk pengembangan transmigrasi, pemukiman, pertanian dan perkebunan. Kedua, Hutan Konservasi adalah kawasan hutan dengan karakteristik tertentu, yang memiliki fungsi utama melestarikan keanekaragaman tumbuhan dan hewan serta ekosistemnya.

Ketiga, Hutan Lindung adalah kawasan hutan yang telah ditetapkan oleh pemerintah atau kelompok masyarakat tertentu untuk dilindungi, sehingga fungsi ekologi mereka, terutama terkait dengan sistem air dan kesuburan tanah, masih dapat berjalan dan bermanfaat bagi masyarakat sekitar.

Keempat, Hutan Produksi Permanen adalah kawasan hutan untuk produksi hasil hutan guna memenuhi kebutuhan masyarakat pada umumnya, terutama untuk pengembangan, industri dan ekspor yang dapat dieksploitasi dengan penebangan selektif atau tebang habis.

Kelima, Hutan Produksi Terbatas adalah hutan yang dialokasikan untuk produksi kayu dengan intensitas rendah. Hutan produksi terbatas ini umumnya terletak di daerah pegunungan di lereng yang curam yang membuat penebangan sulit.

Keenam , Kawasan Non Hutan adalah lahan yang tidak pernah mendukung hutan dan lahan yang dulunya dihutankan dimana penggunaan manajemen kayu dilarang oleh pembangunan untuk penggunaan lain.

Menurut ITTO (International Tropical Timber Organization), pada tahun 2014 Indonesia memproduksi sekitar 67 juta m3 kayu bulat, yang hampir seluruhnya digunakan di dalam negeri. Sedangkan asumsi produksi pada 2018 adalah 81,70 juta m3 kayu bulat.

Kayu yang populer di Indonesia terdiri dari kayu lunak (Mahoni, Rubberwood, Kayu Sonokeling, Mindi, Pinus, Akasia dan Albasia) dan kayu keras (Meranti, Merbau, Kruing, Kayu Jati dan Bangkirai).

Dalam diskusi HIMKI dengan Asosiasi Furniture Shandong di Linyi, China Utara, ditegaskan bahwa perang dagang antara Amerika Serikat dengan China memberi ruang dan kesempatan Indonesia untuk meningkatkan volume ekspor, yang salah satunya harus bersiap dengan adanya arus migrasi industri dari China menuju Asean, melalui beberapa tahap.

Tahap pertama, adanya transfer order dari China agar ekspor terbit dari negara non China dengan tujuan tidak kena biaya tarif masuk ke Amerika Serikat. Tahap kedua, investing, yaitu dengan adanya relokasi industri dari China. Hal itu sebenarnya telah terjadi di Vietnam, namun wilayah dan SDM di Vietnam terlalu kecil untuk menampung relokasi industri mebel China. Tahap ketiga, mobilisasi raw material kayu engineering dari Shandong ke luar China dengan jalan darat dan laut, termasuk menuju Asean. Tahap keempat, mencari partner yang bisa diajak kerjasama bisnis dengan pasar yang sudah mereka miliki. maulana s jaelani